Tuesday, April 29, 2008

Haji Wan



Haji Wan. Demikian ia biasa dipanggil. Tidak ada yang istimewa dari penampilan lelaki peranakan cina melayu itu. Ia tinggal dikampung nelayan di kawasan Galang, Batam yang listriknya lebih sering mati dari hidup. Ia berprofesi sebagai toke, istilah yang digunakan untuk pengepul ikan dari nelayan.

Selain sebagai toke, ia aktif sebagai imam masjid bersama dengan seorang haji lainnya. Cara berpakaian menunjukkan ia memiliki pandangan berbeda dalam beberapa hal di wilayah hilafiyah dari masyarakat kebanyakan . Pun demikian, ia sangat dekat dengan masyarakat yang sangat menghormatinya.

Sekali lagi, tidak ada yang istimewa darinya kecuali cara ia mengajak masyarakat memakmurkan masjid di Ramadhan dan Idul Fitri. Sebuah cara yang luar biasa yang belum pernah saya temukan didusun-dusun nelayan di hinterland, setidaknya sampai saat ini.

Warga dusunnya bukanlah orang-orang yang pandai menabung. Selain karena kebutuhan hidup, pola masyarakat yang konsumtif seringkali menyebabkan penghasilan dari menangkap ikan tidak berbekas, kecuali untuk rumah dan perlengkapannya. Infaq Ramadhan dan Idul Fitri yang tidak telalu besar sangat merisaukan hatinya, ditambah dengan keluhan orang tua memenuhi tuntutan anak-anak mereka menjelang hari raya.

Mencoba mengatasi hal tersebut, lepas ramadhan tahun lalu ia menerapkan satu pendekatan yang unik.

Ia mengajak para nelayan yang biasa menjual ikan kepadanya berunding. Ia menawarkan diri untuk memotong Rp. 500 – Rp. 1000 dari setiap kilogram hasil penjualan mereka dan menyimpannya. Ia menjelaskan uang tersebut akan dikembalikan menjelang hari idul fitri tahun depannya.

Tak banyak yang berminat pada awalnya. Dari 40-an nelayan, 7 diantaranya bersepakat. Maka Haji Wan pun secara istiqamah memotong, mencatat dan menyimpan potongan hasil penjualan itu. Uang itu ia simpan dirumahnya, karena memang ia tidak memiliki alternatif lain.

Awal Ramadhan kemarin, ia membagikan hasil pemotongan selama setahun. Ia mengembalikan uang 2 – 6 juta rupiah kepada 7 nelayan tersebut seraya menekankan untuk menginfaqkan sebagian dari uang tersebut pada masjid, baik infaq ramadhan maupun sholat Idul Fitri. Mereka mendengarkan nasihat itu dan mematuhinya.

Pada perhitungan akhir, infaq ramadhan melonjak sampai tiga kali lipat dan infaq sholat Idul Ftri bertambah dua kali lipat. Ke – 7 keluarga nelayan tersebut juga secara nyata mampu merayakan hari raya tersebut dengan lebih baik. Kini, berbondong-bondong nelayan mendengar nasihatnya dan mengikuti jejak 7 nelayan terdahulu.

Pendidikan Haji Wan hanyalah lepas sekolah dasar, namun ia behasil menemukan kearifan dalam memahami masalah. Ia menggunakan apa yang ia miliki, ia mengambil tindakan menurut mampunya, beristiqamah dan akhirnya menghasilkan solusi cerdas bagi problematika masyarakatnya.

Mencoba menjadi Haji Wan, saya berusaha memahami apa yang ada dibenaknya ketika ia memulai upayanya tersebut. Saya berharap kita bisa menemukan intinya dan mengaplikasikannya dilingkungan kita. Pertanyaan-pertanyaan berikut menggelayut dikepala: potensi apakah yang sesungguhnya kita miliki? Potensi apa yang dimiliki oleh Haji Wan yang tidak kita miliki?

Apapun itu, Haji Wan menunjukkan satu hal: semua kita memiliki sesuatu untuk merubah keadaan. Kita tidak perlu menunggu hingga semua siap untuk memperbaiki keadaan. Haji Wan menggunakan posisinya sebagai toke sebagai alat berdakwah, bukan posisinya sebagai haji atau imam masjid. Ia tidak berdakwah dengan bicara, ia bertindak. Ia tidak cuma bicara ayat dan hadist, ia langsung mempraktekkannya.

Setiap membayangkan sosoknya, selalu terngiang kata-katanya: "Allah tidak berkehendak semua menjadi ustadz, maka lakukanlah sesuatu menurut cara dan mampu kita. Yang mulia adalah mereka yang melakukan, bukan yang hanya bicara, karena Rasulpun seorang pedagang".

Upaya apakah yang sudah kita lakukan minggu ini untuk umat? Marilah kita membayangkan pertanyaan itu Allah SWT ajukan pada kita dihari perhitungan kelak, seraya bersabda" Bukankah sudah kuberikan hartaKu padamu? Bukankah sudah kutitipkan ilmuKu padamu? Bukankah sudah kau dengar ucapan rasulKu untukmu? Bukankah telah datang fakir miskinKu kedepan pintu rumahmu?"

Pada hari itu, tak ada retorika yang bisa menyelamatkan kelalaian kita.


(sumber: www.dsniamanah.or.id)




Monday, April 28, 2008

Memilih Pilihan



Seorang rekan datang dan berdiskusi. Ia dilanda kebimbangan. Ia dipercaya untuk memperluas cakupan tanggung jawabnya. Tak bermaksud untuk menolak tugas dan tantangan, hanya saja ia ragu apakah ia punya yang diperlukan untuk tanggung jawab itu.

Mendampingi masyarakat memang pekerjaan luar biasa. Termasuk dalam parameter adalah karakter individu, satu faktor yang nyaris diluar jangkauan tangan. Menangani 350-an mesin produksi berteknologi tinggi ternyata tidak ada apa-apanya dibanding 2 kaki lima yang saya dampingi. Yang pertama mereka ikut mau saya, yang kedua saya ‘harus’ ikut mau mereka.

Saya baru 2 orang. Bisa saya bayangkan dinamika mereka yang mendampingi satu kelompok. Nah apalagi kalau yang harus didampingi adalah masyarakat satu desa? Wuaduh

Benturan bertubi-tubi dalam pendampingan seringkali membuat kita kelelahan. Diluar itu, sebagai individu, kita juga punya masalah yang tidak kurang pelik. Ketika keduanya bertemu, dan ketika tidak ada kawan berbagi, lengkaplah penderitaan.

Lalu, bagaimana bila saat itu pula, kita ‘terpaksa’ untuk menerima tambahan daftar tanggung jawab? Gimana juga kalau ternyata sebagian dari daftar itu masih benar-benar baru buat kita? Dan kita tiba-tiba memang bener-bener sendirian? Well, simpan daftar panjang penderitaan kita itu. Tambahkan kreativitas dan sedikit nekat, siapa tahu bisa jadi skenario sinetron 20 episode.

Cara Pandang
Sederhananya, hidup ini cuma memilih sepasang pilihan: maju atau mundur, kiri apa kanan, menolak atau menerima dan seterusnya. Sederhananya, kita tahu manfaat dan resiko dari setiap pilihan, Sunatullahnya pilihan harus diambil. Allah SWT siapkan semuanya untuk kita: masalah dan way out. Untungnya Allah SWT bukan seperti kita, kadang jail, ngasih masalah tanpa solusi.

Sewaktu training, kita punya pilihan: sungguh-sungguh or just having fun. Dan hasilnya memang tergantung niat awal. Kita tahu bahwa kita bisa beretorika, dapet satu-dua data ekspos habis-habisan, sisa waktu untuk jalan-jalan. Dan kita tahu kita bisa bener-bener jadi bongkar batu cari udang, sajikan data seperti adanya dan simpan ilmunya disaku (untuk bahan jualan training PRA di daerah) atau dihati untuk dibagikan.

Yang mungkin sering dilupakan adalah: baik becanda atawa serius, kedua-duanya nyaris mengkonsumsi energi dan waktu yang sama. Artinya kalu patokannya adalah “return on investment” maka menjadi serius adalah pilihan yang lebih bijak. Kecuali niatnya memang invest di bercanda.

Kepada rekan tersebut saya jelaskan, waktu dan energi yang kita habiskan untuk ‘memelihara’ rasa khawatir, takut, lelah dlsb adalah juga energi dan waktu yang bisa kita habiskan untuk melihat peluang. Pilihan pertama menghasilkan kekhawatiran lain, pilihan kedua menghasilkan jalan keluar.

Sekali lagi pilihannya sebenarnya sederhana: semua ada resikonya, keputusan memilih pilihan ada ditangan kita. Jadi bukan resikonya yang harus jadi fokus, tetapi alasan kita memilih pilihan. Pilihan apakah kita mau invest energi dan waktu berharga kita di kekhawatiran/ketakutan atau pada kesempatan / peluang.

Satu lagi, hasil dari pilihan cuma : berhasil atau gagal. Uniknya kebanyakan dari kita lebih suka fokus pada kegagalan, bukan keberhasilan, lebih takut pada kegagalan dibanding sukses. Padahal penciptaan manusia adalah sejarah ‘kegagalan’ yang berhasil.

Sel telur itukan ratu ja-im (jaga imej) and sel sperma itu raja maksa. Bayangin, dari lebih dari 30 juta (tigapuluh juta) sel sperma yang ‘menggoda’ sel telur, cuma SATU yang dipilih. Luar biasa ja-im !!!. Ternyata, kita semua ini hasil 30 juta kali usaha mengulangi kegagalan. Jadi, masih punya alasan untuk takut? menyerah? lemah?

Hey ... did I ring the bell ???

Pendamping memang luar biasa. Dia harus tetep jadi genset yang memotivasi orang lain meskipun bensin sudah kering kerontang. Tapi demikianlah Allah SWT meninggikan manusia sebagian atas lainnya. Mudah saja buat Dia untuk membuat kita selalu senang. Tapi sekali lagi, Dia adalah Ia yang memiliki skenario maha unik. Seperti kata mas Rano (eh ... atau mas Ponco), pada penciptaan kupu-kupu ada pelajaran penting: Ia berikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

Jadi kalau Allah gelontorkan masalah didepan kita, sementara orang lain adem ayem toto tentrem raharjo, Ia tidak sedang bermain-main. Ia sedang meninggikan kita. Pilihan akhirnya ada dikita: kita investasikan energi dan waktu menghadapi masalah untuk jadi lebih dekat denganNya. Atau berleha-leha dalam kenyamanan dibalik tirai tipis kebohongan keluhan-keluhan dan menjauh dariNya.

Ada satu kutipan sajak yang sangat memotivasi saya. Silahkan terjemahkan kedalam bahasa hati masing-masing karena saya tidak berani, kecuali untuk hati saya sendiri:

“ Two roads diverged in a wood. I took one less-travelled by. And that has made all the differences ...”

Hidup memang memilih pilihan. Nilai kita bukan pada pilihan yang kita ambil, tapi pada alasan mengapa kita memilih pilihan itu.

Batam, 28 April 2008

Tuesday, April 22, 2008

Pilihkan Untukku ...




Ya Rabb,
Inilah aku, bersimpuh di depan gerbang rumahMu
Membawa tubuh bertaburan butir-butir kedzaliman
Berbalut kufur atas nikmat yang Engkau sandangkan
Berbekal sisa-sisa harap, sudi kiranya Engkau mendengarkanku

Duhai Maha Mengasihi,
Telah lelah aku seharian menemani lalai nafsuku
Menari ditanah dunia mencari gunungan emas pusaka
Yang takkan mampu kubawa ke rumahMu
Yang tak ada arti diatas kepingan pingganMu
Berharap agar sekali saja beroleh debu singgasanaMu
Agar dapat kutegakkan bahu dihadapan manusia

Duhai Pemegang Segala Rahasia,
Telah Kau gerakkan qalbku melihat jalan yang kupilih kini,
Telah sekali Kau penuhi hatiku dengan keraguan atas rizkiMu
Telah sekali Kau biarkan aku berdiam dalam pekat kabut ketidak tahuan
Telah sekali Kau bisikkan kedadaku keinginan menguntai doa kepadaMu
Telah sekali Kau taburkan nikmat atas harapan-harapanku padaMu
Telah sekali Kau kuatkan azzamku memenuhi panggilanMu
Telah sekali Kau permudah kakiku berjalan menuju rumahMu

Duhai Sang Hanif,
Pilihkanlah untukku sekali ini lagi kata-kata
Yang apabila kurangkai menjadi doa
Mampu menghalau letih dalam taat mengabdi padaMu
Menjadi teman kala sendirian kecewa bergantung pada manusia,
kepada selainMu

Pilihkanlah untukku
Teman untuk menemaniku berjuang dijalanMu
Yang menghilangkan lelah dengan senyum dan tatapan cintaMu
Yang mengumandangkan ayat-ayat kauniah dan kauliahMu
Disetiap siang dan malamku, bagiku dan keturunanku

Pilihkanlah untukku
Jalan yang lebih Engkau sukai
Agar aku tetap sampai keharibaanMu
Diujung hariku

Batam, 22 April 2008

“… Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka, dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar ….” (QS9:111)

Saturday, April 19, 2008

Pendamping



Mereka adalah orang-orang kebanyakan, yang memutuskan untuk mengabdikan waktu, tenaga dan potensi intelektual pada jalan pemberdayaan masyarakat. Mereka bukanlah malaikat atau seperti sekelompok orang yang menafikan kenikmatan semata untuk memuaskan keinginan berjumpa dengan RabNya. Mereka adalah orang-orang yang menikmati dunia pada salah satu sudutnya

Mereka adalah pemenang, yaitu orang yang sadar memilih sendiri jalan hidupnya, menerima resiko dan menikmati setiap detik perjalanannya. Mereka bukanlah orang tanpa beban, bukan yang bisa melawan gelombang. Mereka adalah manusia biasa, yang ditengah-tengah letihnya menyimpan keluhan untuk dihidangkan ketika berkhalwat dengan KhaliqNya sebagai panganan qalb yang sangat lezat

Mereka bukanlah orang yang banyak. Mereka adalah sebagian kecil dari kelompok orang-orang yang menjawab panggilan Allah SWT untuk memelihara, menegakkan dan meneguhkan AsmaNya direlung hati manusia yang tengah diuji dengan dengan kesempitan dunia. Mereka adalah orang-orang yang beroleh izinNya melihat sebuah sisi lain yang tak banyak dilihat kebanyakan manusia. Mereka adalah orang-orang yang ber-azam menjadi jalan terbaginya Rahmat pada saudara se-aqidah yang terlupakan dalam hiruk pikuk pencarian bekal dunia.

Mereka bukanlah orang yang tercerai berai. Mereka tahu bahwa mereka tidaklah sendiri. Mereka adalah orang-orang tetap menunaikan amanah menurut mampu yang Allah titipkan sembari bersabar menjalin ukhuwah bersama para pejuangNya yang Allah sebar dimuka bumiNya. Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam memenuhi panggilanNya menjadi barisan yang tersusun rapih.

Mereka adalah orang-orang yang menepikan pinggan dunia yang Allah halalkan baginya, mengambil segenggam dan meninggalkan sisanya diatas meja penuh dengan orang-orang bertanya bagaimana Allah akan mencukupi kebutuhan mereka kelak. Mereka adalah orang-orang yang telah dan akan segera menemukan janjiNya akan kelapangan hati ditengah-tengah kesempitan dunia.