Monday, May 12, 2008

Pendamping : Harus gunakan hati

Aww. Bu RW, ijin nongolya... Teman-teman dipenjuru angin surga. Saya kirim kisah seorang pendamping Masyarakat mandiri ketika harus mendampingi masyarakat. Semoga kisah ini dapat diambil ibrahnya. Oya, tulisan ini sudah pernah dimuat dalam buku yang diterbitkan DD judulnya kalo ndak salah pemberdayaan tiada henti. Salam.
Ponco Nugroho (Sang Pendamping Masyarakat)

UCUP BERUSAHA LAH

Ucup, begitulah panggilan lelaki umur 48 dari desa harkat Jaya Cigudeg, Bogor. Nama sebenarnya adalah Yusuf. Pria lulusan SMP ini tinggal bersama seorang istri, ibu mertua dan 5 orang anak yang usianya 8 – 13 tahun. Meskipun lulusan SMP ternyata ucup tidak memiliki perekrjaan selayaknya ijazah yang disandang, karena mayoritas warga di desa yang masih rawan tindak mkriminil ini adalah tidak sekolah dan lulus SD. Setiap hari istri ucup dan kelima anaknya bekerja sebagai pengembala kerbau milik tetangga demi mengharapkan 1-2 liter beras untuk dimakan hari itu.

Keluarga ucup tinggal disebuah gubuk bambu 6 x 7 m2 berlantai tanah. Anginpun engan masuk ke dalam rumah karena memang tidak menemukan lubang jendela. Ruangan didesain tanpa batas sedikitpun sehingga dari mana uucup berdiri maka seluruh ruangan dan aktivitas dlam rumah terlihati. Udara dalam rumah tidak bergerak, terkadang asap kayu bakar menyelimuti seluruh ruangan. Pengap dan lembab ditambah lampu yang ala kadarnya.

Apa yang dilakukan Ucup tiap hari ? rasa ingin tahu dari pendamping saat melintas didepan rumah yang sudah terlihat tua. Ucup lebih banyak hilir mudik antara rumah dan warung, untuk sekedar ngobrol sesekali meminta rokok dari warung dan teman diskusinya. Main karambol telah menjadi keahlian ucup karena hampir tiap hari diasah dan jumlah mobil yang pun mungkin dapat dihitung setiap hari dari warung langganannya.

Ucup, bukan sakit ingatan. Dia manusia normal tapi keperdulian kepada keluarganya jauh dari harapan masyarakat pada umumnya. Terkadang ada warga yang meminta ucup membersihkan kebun dengan upah Rp 8.000, dalam setengah hari. Apa yang diperbuat dengan uang hasil jerih payahnya ? Istri, anak dan ibu mertuanya hampir tidak pernah menikmati jerih payah kepala keluarga ini. Sehari bekerja, saat itu habis untuk membeli rokok dan menuruti kesenangan pribadinya. Wajar anak-anak ucup yang seharusnya sudah saatnya menikmati bermain di sekolahan dan belajar menulis namannya diatas kertas, semua masih buta huruf. Tiap hari harus membantu ibunya mengembala kerbau.

Suatu waktu, Ucup mendapat bantuan baik berupa uang, makanan, bahan sandang. Karena lulusanya dianggap tinggi oleh warga sekitar Ucup pun diikut sertakan dalam pembinaan keterampilan usaha warung dan pembuatan kripik pisang. Setelah menerima bantuan makanan dan sandang, anginpun seakan hendak berhenti karena ingin menyaksikan ucup memberikan nafkah kepada istri dan anaknya. Apa yang terjadi? Hanya sebagian kecil saja semua bantuan itu dapat dinikmati oleh keluarganya. Sedangkan bantuan modal setelah pelatihan yang diberikan tidak berbekas setelah satu bulan. Entah kemana dan untuk apa.

Suatu saat, program masyarakat mandiri sedang membuka kelompok baru. Ketika melihat banyaknya mitra yang bergabung dalam kelompok-kelompok, Ucup yang dulu dikenal ‘Ogah berusaha, mulai tergerak hatinya untuk mengikuti program. Banyak kontraversi dalam menanggapi masuknya ucup dalam kelompok. Ada yang dengan cara halus menolak, ada yang secara kasar menentang masuknya ucup dalam program. “bapak-bapak coba kita berikan kepercayaan kepada pak ucup, berilah kesmpatan untuk merubah nasib diri dan keluarganya. Lagi pula siapa lagi kalau bukun ucup sendiri dengan kesempatan yang kita berikan ? Suara pendamping program MM dengan nada pelan. Bukan kah Allah SWT telah berfirman bahwa” setelah kesulitan pasti ada kemudahan”. Atau dalan firma lainya “ Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, apabila kaum tersebut tidak mau mengubah nasibnya sendiri” tambah pendamping menyakinkan mitra lainya. Meski dalam hati pendamping bergejolak antara ragu dengan sosok ucup dengan kewajiban membantu keluarga ucup yang semakin hari semakin tidak menentu karena mertuanya sedang sakit.. Bukankah sebuah kemuliaan apabila kita menjadi perantara untuk orang menjadi lebih baik ? guman pendamping dalam hati untuk menyakinkan keputusannya.

Latihan kelompok pun mulai dilaksanakan selama 6 hari. Ucuppun mengikuti dengan serius tanpa ada keluhan apapun juga kelompoknya. Bahkan kelompoknya memberikan kepercayaan kepada Ucup untuk menjadi sekretaris kelompok karena dialah yang bisa menulis dan tulisanya bagus. Sebagai sekertaris, ucup mendapatkan modal lebih lambat dari anggotanya.

Saat yang nanti ucup tiba, modalpun pendamping berikan. Tidak lebih dari satu minggu setelah menerima modal, rumah ucuppun mulai dipenuhi bebagai jenis sandal dan pakaian. Ucup mulai berkeliling menawarkan dagangannya. Angsuran ke induk kelompokpun mulai lancar, sayang ucup tidak gemar menabung. Perhatian pendamping pun lebih ekstra kepada ucup.

Hari berganti hingga bulan. Apa yang dikawatirkan masyarakat pun terbukti sudah. Hampir dua bulan berusaha, ucuppun sudah mulai jenuh dan enggan belanja dan berkeliling. Kebiasaanya mulai kambuh. “Benarkhan pak Robi, dia mah emang malas!” kata bu Miok salah seorang mitra kepada pendamping. Modal yang telah diberikan secara perlahan habis untuk butuhannyasendiri. Bahkan setelah pendamping mendatangi keluarganya, ucuppun pergi tanpa pesan. Istrinya pun mengaku ucup tetap saja tidak pernah memberikan nafkah kepada anggota keluarganya. Istri,Anak dan ibu mertuanya sering kekurangan makan, ucuppun tiada mengetahui. Bahkan ketika ibu mertuanya meninggal, ucup masih asik dengan dunianya sendiri, tanpa ada yang berani menyentuh. Aginpun sedih ketika melewati bilik rumahnya yang makin tua. Hujanpun seakan berduka dan ingin mengguyur seluruh badan ucup yang kuat agak roboh dan tersadar kembali.

No comments: